SakaNTi

Integritas & Reputasi

Ambara

Mulai tahun 2008 ini, kami melakukan pemisahan atas Divisi Etnik & Natural dari SakaNTi. Kata Ambara (angin; bhs Sansekerta) dipilih untuk mewadahi divisi ini. Pemisahan ini dilakukan mengingat tingginya permintaan pelanggan akan bangunan yang bercorak etnik, tradisionil, dan menyatu dengan alam indonesia yang tropis, dalam hal ini rumah Jawa. Stok rumah Jawa yang ada di kami bukan hasil repro, namun asli rumah kuno Jawa yang dibangun puluhan bahkan ratusan tahun lalu dan umumnya berbahan kayu Jati. Penyelamatan kami lakukan di seluruh pelosok-pelosok desa terpencil untuk menghindarkan rumah-rumah kuno Jawa dari pihak-pihak yang mengincar kayunya untuk bahan pembuatan mebel antik (repro). Meskipun demikian, adakalanya kami dapati beberapa bagian telah mengalami kerusakan sebagai akibat usia yang sangat tua atau tidak terawat sehingga diperlukan perbaikan untuk mengembalikan ke corak aslinya.

 

 

Ambara tidak sekedar mendirikan kembali Rumah Kuno Jawa, tetapi memodifikasinya sedemikian rupa hingga kebutuhan gaya hidup moderen klien tetap terpenuhi tanpa mengorbankan bentuk dasar maupun nilai artistiknya. Oleh sebab itu desain maupun jasa pengerjaan Land Scaping-nya juga kami tawarkan agar mendukung pancaran dari indahnya Rumah Kuno Jawa saat telah berdiri kokoh di atas lahan milik klien.

Dalam melakukan kegiatan ini Ambara tidak hanya melihat dari sisi profit, namun lebih dari itu, yaitu mengajak masyarakat untuk peduli, mencintai, dan ikut melestarikan hasil budi daya adiluhung bangsa sendiri. Hal yang sangat memprihatikan apabila apresiasi atas Rumah Tradisional Kuno justru banyak datang dari para expatriat dan bukannya oleh orang-orang Indonesia sendiri.

 

Para expatriat tersebut mengetahui dan menyadari bahwa gaya dan bentuk arsitektur rumah-rumah tradisional adalah yang paling sesuai dengan iklim geografis Indonesia dan mewujudkan kearifan leluhur dalam mensikapi alam.

Selain Rumah Joglo, permintaan klien atas Rumah Limasan Kuno yang telah kami rekondisi juga cukup tinggi. Rumah Limasan memiliki denah empat persegi panjang dan 2 buah atap (Kejen atau Cocor) serta 2 buah atap lainnya yang disebut brunjung yang berbentuk jajaran genjang sama kaki. Kejen atau Cocor berbentuk segi tiga sama kaki seperti tutup keong. Karena cenderung berubah, maka Rumah Limasan mengalami penambahan sisi-sisinya yang disebut dengan empyak emper atau atap emper sehingga mengakibatkan beragamnya jenis Rumah Limasan.

Mohon maaf apabila tidak semua foto-foto Rumah Jawa dapat kami tampilkan di Galery Photo. Namun apabila Anda berminat untuk membangunnya, dengan senang hati kami mengagendakan waktu untuk melakukan presentasi. Untuk keterangan lebih lanjut dapat menghubungi kami melalui email  ...Maturnuwun sak déréngipun